Kisah Tangan Zainab رضي الله عنها yang Panjang—Apa Maksud Rasulullah ﷺ?

 Temukan 16 ide Batu batu indah dan lukisan batu | gambar yang indah, wallpaper bunga indah, wallpaper bunga, dan lainnya

Ada sebuah ungkapan Rasulullah ﷺ yang dahulu membuat para istri beliau bertanya-tanya:

“Siapakah di antara kalian yang paling cepat menyusulku?”

Para istri Rasulullah ﷺ kemudian mengukur tangan mereka.

Mereka mengira bahwa “tangan yang paling panjang” mungkin berkaitan dengan panjang tangan secara fisik.

Namun ternyata maksud Rasulullah ﷺ jauh lebih dalam.

Kisah ini berkaitan dengan Zainab binti Jahsy رضي الله عنها, bukan Zainab binti Khuzaimah رضي الله عنها.

Dan kisah ini menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ menggunakan sebuah ungkapan sederhana untuk mengajarkan tentang sedekah dan panjangnya tangan dalam kebaikan.

Rasulullah ﷺ Bersabda tentang “Tangan yang Paling Panjang”

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakr رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para istrinya:

“Yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.”

Mendengar sabda tersebut, para istri Rasulullah ﷺ kemudian mengukur tangan mereka.

Ternyata, tangan Zaynab bint Jahsh رضي الله عنها adalah yang paling panjang.

Mereka pun mengira bahwa Zainab رضي الله عنها akan menjadi istri Rasulullah ﷺ yang pertama kali wafat setelah beliau ﷺ.

Namun ternyata bukan begitu maksudnya.

Zainab رضي الله عنها Memiliki “Tangan Panjang” dalam Kebaikan

Zainab رضي الله عنها dikenal sebagai perempuan yang banyak bersedekah dan gemar membantu orang-orang yang membutuhkan.

Beliau bekerja dengan tangannya sendiri.

Kemudian hasilnya digunakan untuk bersedekah.

Karena itulah ketika Zainab رضي الله عنها wafat lebih dahulu di antara istri-istri Rasulullah ﷺ setelah beliau ﷺ wafat, para sahabat memahami maksud perkataan Rasulullah ﷺ.

“Tangan yang paling panjang” bukanlah tangan yang paling panjang secara fisik.

Tetapi tangan yang paling banyak memberi.

Subhanallah.

Sebuah ungkapan sederhana ternyata menyimpan pelajaran yang sangat dalam.

Mengapa Zainab رضي الله عنها?

Zainab رضي الله عنها memiliki sifat yang sangat dermawan.

Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau adalah seorang perempuan yang suka bekerja dengan tangannya dan kemudian bersedekah.

Beliau tidak hanya menyimpan apa yang diperolehnya untuk dirinya sendiri.

Apa yang bisa diberikan, beliau berikan.

Apa yang bisa dibantu, beliau bantu.

Karena itulah “panjangnya tangan” menjadi gambaran yang sangat indah untuk menggambarkan luasnya manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Ketika Zainab رضي الله عنها Wafat

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Zainab رضي الله عنها menjadi istri beliau ﷺ yang pertama wafat.

Ketika itu, para istri Rasulullah ﷺ kemudian menyadari makna sabda beliau ﷺ.

Ternyata Zainab رضي الله عنها memang memiliki “tangan yang paling panjang” dalam arti:

tangan yang paling banyak bersedekah.

Bukan karena anggota tubuhnya lebih panjang.

Tetapi karena tangannya lebih cepat menjangkau orang-orang yang membutuhkan.

Betapa Indahnya Pendidikan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan melalui ceramah panjang.

Terkadang beliau ﷺ mengajarkan sesuatu melalui kalimat singkat yang membuat para sahabat berpikir.

Para istri beliau ﷺ pada awalnya memahami perkataan tersebut secara literal.

Mereka mengukur tangan.

Namun setelah peristiwa itu terjadi, mereka memahami bahwa Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Yaitu:

Kemuliaan seseorang bukan diukur dari bentuk tubuhnya, tetapi dari manfaat yang keluar dari dirinya.

“Tangan Panjang” yang Seharusnya Kita Miliki

Hari ini kita mungkin tidak memiliki kekayaan besar.

Tetapi apakah kita masih bisa memiliki “tangan panjang”?

Tentu.

Tangan panjang dalam kebaikan bisa berarti:

Memberikan makanan kepada orang lapar.

Membantu tetangga yang kesulitan.

Memberikan uang kepada orang yang membutuhkan.

Membantu orang tua.

Menyantuni anak yatim.

Membayar kebutuhan seseorang yang sedang kesusahan.

Memberikan ilmu.

Membantu seseorang mendapatkan pekerjaan.

Bahkan memberikan segelas air kepada orang yang haus.

Semua itu bisa menjadi bentuk kebaikan.

Tidak Harus Kaya untuk Menjadi Dermawan

Ini salah satu pelajaran paling penting dari Zainab رضي الله عنها.

Jangan menunggu menjadi kaya untuk mulai berbagi.

Jangan berkata:

“Kalau nanti saya punya banyak uang, saya akan bersedekah.”

Sebab kebaikan tidak selalu membutuhkan harta yang banyak.

Yang dibutuhkan adalah hati yang mau memberi.

Kadang seseorang memiliki sedikit, tetapi ia tetap berbagi.

Dan terkadang seseorang memiliki banyak, tetapi tangannya sangat sulit untuk memberi.

Maka “panjangnya tangan” bukan tentang jumlah harta yang dimiliki.

Tetapi tentang seberapa jauh tangan kita menjangkau kebutuhan orang lain.

Siapa yang Paling Cepat Menyusul Rasulullah ﷺ?

Kalimat Rasulullah ﷺ juga memiliki sisi yang sangat menggetarkan:

“Yang paling cepat menyusulku...”

Akhirnya Zainab رضي الله عنها memang menjadi istri Rasulullah ﷺ yang pertama wafat setelah beliau ﷺ.

Ini mengingatkan kita kepada sesuatu yang sering kita lupakan:

Kematian pasti datang.

Yang menjadi pertanyaan bukan hanya:

“Berapa lama kita hidup?”

Tetapi:

“Apa yang sudah kita lakukan selama hidup?”

Zainab رضي الله عنها meninggalkan jejak berupa sedekah dan kepedulian.

Namanya dikenang bukan karena kemewahan.

Tetapi karena tangannya banyak memberi.

Pelajaran untuk Kita

1. Jadilah Orang yang Bermanfaat

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang bisa saya dapatkan?”

Sesekali tanyakan:

“Siapa yang bisa saya bantu hari ini?”

2. Jangan Takut Harta Berkurang karena Bersedekah

Allah ﷻ berfirman:

> “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”

QS. Saba': 39.

Sedekah bukan sekadar mengeluarkan harta.

Ia adalah bentuk kepercayaan kepada Allah ﷻ.

3. Kebaikan yang Diam-Diam Bisa Sangat Besar

Zainab رضي الله عنها tidak perlu menjadi terkenal karena sedekahnya.

Yang penting adalah orang yang membutuhkan mendapatkan manfaat.

Demikian pula kita.

Tidak semua amal harus diketahui manusia.

Ada kebaikan yang justru lebih indah ketika hanya Allah ﷻ yang mengetahuinya.

4. Panjangkan Tangan Kita Sebelum Dipanggil Pulang

Kita tidak tahu kapan ajal datang.

Maka sebelum tangan kita tidak lagi mampu memberi:

gunakanlah tangan kita untuk kebaikan.

Sebelum kaki kita tidak lagi mampu berjalan:

gunakanlah untuk mendatangi orang yang membutuhkan.

Sebelum harta kita berpindah kepada ahli waris:

gunakan sebagian untuk bekal akhirat.

---

Rasulullah ﷺ pernah berkata:

“Yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.”

Para istri beliau ﷺ sempat mengira bahwa maksudnya adalah panjang tangan secara fisik.

Namun Zainab رضي الله عنها kemudian menunjukkan makna yang sebenarnya.

Tangan yang panjang adalah tangan yang gemar memberi.

Maka jangan hanya berusaha menjadi orang yang memiliki banyak.

Berusahalah menjadi orang yang banyak memberi manfaat.

Sebab pada akhirnya, yang kita bawa menghadap Allah ﷻ bukanlah panjang tangan kita secara fisik.

Tetapi panjangnya jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan.

* Doa

Ya Allah ﷻ, panjangkan tangan kami dalam kebaikan.

Jadikan kami orang yang ringan bersedekah, senang membantu, dan tidak tega melihat saudara kami dalam kesulitan.

Berikan kami hati yang ikhlas ketika memberi dan jauhkan kami dari sifat kikir.

Ya Allah ﷻ, sebelum Engkau memanggil kami kembali, izinkan tangan kami menyentuh banyak kehidupan dengan kebaikan.

Aamiin ya Rabbal 'alamin 🤲

Share:

Kisah Juwayriyah رضي الله عنها yang Menjadi Sebab Banyak Orang Mendapat Kebebasan

 Juwairiyah binti al-Harits, Istri Rasulullah yang Membawa Berkah - Bincang Muslimah

Di antara kisah para istri Rasulullah ﷺ, ada sebuah kisah yang menunjukkan bagaimana sebuah pernikahan dapat menjadi sebab lahirnya pembebasan banyak manusia.

Beliau adalah Juwayriyah binti Al-Harits رضي الله عنها, salah satu Ummahatul Mukminin.

Kisah beliau bermula setelah Perang Bani al-Musthaliq, ketika banyak dari kaum Bani al-Musthaliq menjadi tawanan.

Di tengah keadaan tersebut, Juwayriyah رضي الله عنها datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan agar dirinya dapat memperoleh kebebasan.

Namun apa yang terjadi setelah itu sungguh luar biasa.

Juwayriyah رضي الله عنها Meminta Bantuan Rasulullah ﷺ

Juwayriyah رضي الله عنها adalah putri Al-Harits bin Abi Dirar, pemimpin Bani al-Musthaliq.

Setelah peperangan, beliau menjadi salah satu tawanan.

Beliau kemudian datang menemui Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan dalam membayar mukatabah, yaitu perjanjian pembebasan seorang budak dengan pembayaran tertentu.

Juwayriyah رضي الله عنها meminta bantuan Rasulullah ﷺ karena tidak mampu menyelesaikan pembayaran tersebut.

Rasulullah ﷺ kemudian menawarkan sesuatu yang jauh lebih mulia:

beliau ﷺ menawarkan untuk membayar mukatabah tersebut dan menikahi Juwayriyah رضي الله عنها.

Juwayriyah رضي الله عنها menerima.

Maka Rasulullah ﷺ membebaskannya dan kemudian menikahinya.

Pernikahan yang Mengubah Nasib Banyak Orang

Ketika para sahabat mengetahui bahwa Juwayriyah رضي الله عنها telah menjadi istri Rasulullah ﷺ, mereka menyadari bahwa orang-orang Bani al-Musthaliq yang berada dalam kepemilikan mereka kini memiliki hubungan dengan keluarga Rasulullah ﷺ.

Mereka pun memilih untuk membebaskan para tawanan yang mereka miliki.

Dalam riwayat sahih dari Aisyah رضي الله عنها, disebutkan bahwa sekitar seratus keluarga dari Bani al-Musthaliq dibebaskan karena pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Juwayriyah رضي الله عنها.

Aisyah رضي الله عنها berkata dengan makna:

> “Aku tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih besar keberkahannya bagi kaumnya daripada Juwayriyah.”

Masya Allah.

Juwayriyah رضي الله عنها yang awalnya datang dalam keadaan membutuhkan kebebasan, akhirnya menjadi sebab banyak orang dari kaumnya memperoleh kebebasan.

Dari Seorang Tawanan Menjadi Sebab Kebebasan

Perhatikan perjalanan kisahnya.

Awalnya:

Juwayriyah رضي الله عنها adalah seorang tawanan.

Kemudian:

Rasulullah ﷺ membebaskannya.

Lalu:

pernikahan tersebut menjadi sebab para sahabat membebaskan banyak tawanan lainnya.

Sebuah keadaan yang tampak sangat berat ternyata Allah ﷻ jadikan sebagai jalan terbukanya kebaikan bagi banyak orang.

Inilah salah satu pelajaran besar dari kisah Juwayriyah رضي الله عنها.

Keberkahan yang Melampaui Diri Sendiri

Juwayriyah رضي الله عنها tidak hanya mendapatkan kebebasan untuk dirinya.

Kebaikan itu meluas kepada kaumnya.

Hal ini mengajarkan sebuah prinsip yang indah:

Kadang-kadang Allah ﷻ memberikan jalan keluar untuk seseorang, lalu menjadikan orang tersebut sebagai jalan keluar bagi orang lain.

Kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah kebaikan kecil akan berkembang.

Satu orang dibantu.

Kemudian ia membantu orang lain.

Orang yang kedua membantu orang ketiga.

Akhirnya kebaikan itu menyebar jauh melampaui orang pertama yang menerimanya.

“Perempuan yang Paling Berkah bagi Kaumnya”

Pujian Aisyah رضي الله عنها kepada Juwayriyah رضي الله عنها sangat kuat.

Bukan karena Juwayriyah رضي الله عنها memiliki kekuasaan.

Bukan karena beliau memiliki harta yang banyak.

Tetapi karena keberadaannya menjadi sebab terbebasnya banyak orang.

Betapa indah jika kehidupan kita juga memiliki keberkahan seperti itu.

Bukan hanya kita yang mendapatkan manfaat dari hidup kita.

Tetapi orang lain juga merasakan kebaikan karena kita.

Juwayriyah رضي الله عنها dan Ibadahnya

Juwayriyah رضي الله عنها juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap zikir.

Dalam hadis sahih Muslim, Rasulullah ﷺ pernah meninggalkan Juwayriyah رضي الله عنها dalam keadaan duduk berzikir setelah salat Subuh.

Ketika beliau ﷺ kembali setelah waktu yang cukup lama, Juwayriyah رضي الله عنها masih berada di tempatnya.

Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan sebuah zikir yang sangat agung:

“Subhanallahi wa bihamdihi, 'adada khalqihi, wa rida nafsihi, wa zinata 'arsyihi, wa midada kalimatihi.”

Artinya secara ringkas:

“Mahasuci Allah ﷻ dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai keridaan-Nya, seberat timbangan 'Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya.”

Kisah ini menunjukkan bahwa kehidupan Juwayriyah رضي الله عنها bukan hanya tentang peristiwa pembebasan.

Beliau juga dikenal sebagai seorang perempuan yang banyak berzikir dan beribadah.

Ada Pelajaran yang Sangat Dalam

Kisah Juwayriyah رضي الله عنها bukan hanya cerita tentang sejarah.

Ada beberapa pelajaran yang sangat relevan untuk kehidupan kita.

1. Jangan Merasa Hidup Kita Tidak Berarti

Juwayriyah رضي الله عنها mungkin pada awalnya tidak mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi sebab banyak orang memperoleh kebebasan.

Begitu juga kita.

Mungkin kita merasa amal kita kecil.

Membantu satu orang.

Memberikan makanan.

Membayar kebutuhan seseorang.

Memberikan pekerjaan.

Mengajarkan ilmu.

Menolong seseorang yang sedang terpuruk.

Kita tidak tahu seberapa panjang rantai kebaikan yang Allah ﷻ ciptakan dari satu amal tersebut.

2. Kebaikan yang Kita Terima Bisa Menjadi Kebaikan bagi Orang Lain

Juwayriyah رضي الله عنها mendapatkan kebebasan.

Namun keberkahan itu tidak berhenti pada dirinya.

Kaumnya juga mendapatkan manfaat.

Maka ketika Allah ﷻ memberi kita pertolongan, jangan berhenti pada rasa syukur untuk diri sendiri.

Tanyakan:

“Siapa yang bisa saya bantu setelah Allah ﷻ membantu saya?”

3. Jangan Meremehkan Satu Orang

Satu orang dapat menjadi sebab perubahan bagi banyak orang.

Juwayriyah رضي الله عنها hanya satu orang.

Tetapi kisahnya menjadi sebab banyak tawanan memperoleh kebebasan.

Karena itu, jangan pernah meremehkan satu kebaikan.

Dan jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena kedudukannya terlihat kecil di mata manusia.

4. Kebebasan Adalah Nikmat Besar

Kisah Juwayriyah رضي الله عنها juga mengingatkan kita tentang pentingnya membebaskan manusia dari kesulitan.

Pada zaman sekarang, bentuk “membebaskan” tidak selalu berarti membebaskan seseorang dari perbudakan.

Kita dapat membantu seseorang terbebas dari:

utang,

kelaparan,

kesulitan ekonomi,

kebodohan,

kesepian,

ketidakberdayaan,

atau masalah yang sedang menghimpit kehidupannya.

Jika Allah ﷻ memberi kita kemampuan untuk meringankan kesulitan seseorang, jangan sia-siakan kesempatan itu.

Jangan Hanya Menjadi Orang yang Diselamatkan

Ada sebuah renungan indah dari kisah Juwayriyah رضي الله عنها:

Jangan hanya berharap Allah ﷻ mengirimkan seseorang untuk menolong kita.

Berusahalah agar suatu hari nanti kita juga menjadi orang yang Allah ﷻ gunakan untuk menolong orang lain.

Mungkin kita pernah berada dalam kesulitan.

Kemudian Allah ﷻ mengirim seseorang untuk membantu kita.

Jangan lupakan pengalaman itu.

Ketika suatu hari Allah ﷻ memberi kita kemampuan, jadilah orang yang membantu orang lain sebagaimana dahulu kita pernah dibantu.

---

Juwayriyah رضي الله عنها datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan membutuhkan kebebasan.

Namun setelah Allah ﷻ memberikan jalan keluar kepadanya, keberkahan itu tidak berhenti pada dirinya.

Pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ menjadi sebab para sahabat membebaskan banyak tawanan dari kaumnya.

Aisyah رضي الله عنها sampai mengatakan bahwa beliau tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih besar keberkahannya bagi kaumnya daripada Juwayriyah رضي الله عنها.

Maka kisah ini mengajarkan:

Jadilah manusia yang kehadirannya membawa keberkahan bagi orang lain.

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang akan Allah ﷻ berikan kepadaku?”

Tetapi tanyakan juga:

“Kebaikan apa yang Allah ﷻ ingin sampaikan kepada orang lain melalui diriku?”

Karena bisa jadi, setelah Allah ﷻ menyelamatkan kita dari satu kesulitan, Dia ingin menjadikan kita jalan keselamatan bagi orang lain.

* Doa

Ya Allah ﷻ, jadikanlah hidup kami penuh keberkahan.

Jika Engkau memberikan kami pertolongan, jadikan kami sebab pertolongan bagi orang lain.

Jika Engkau memberikan kami rezeki, jadikan kami ringan untuk berbagi.

Jika Engkau membebaskan kami dari kesulitan, jadikan kami orang yang membantu membebaskan saudara kami dari kesulitannya.

Ya Allah ﷻ, jangan jadikan hidup kami hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Jadikan kami jalan kebaikan, jalan pertolongan, dan jalan keberkahan bagi banyak orang.

Aamiin ya Rabbal 'alamin 🤲

Share:

KISAH NYATA SEORANG ANAK DI AMSTERDAM- BELANDA

3 WASIAT UNTUK PARA PENUNTUT ILMU ...

 بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Setiap selesai shalat Jum'at setiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yang berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku Islam, di antaranya buku 

Ath-Thariq ilal Jannah (Jalan Menuju Surga).

Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.

Namun, tibalah suatu hari ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin. 

Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin.

Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, aku telah siap."

Ayahnya menjawab, "Siap untuk apa?"

Ia berkata, "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)."

Sang ayahpun berucap, "Suhu sangat dingin di luar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur."

Sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan, "Akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju Neraka di luar sana, dibawah guyuran hujan."

Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata, "Namun, Ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini." 

Akhirnya, anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak, dan akhirnya memberikan izin.

Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata, "Terima kasih, wahai ayahku."

Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya dengan sekantong plastik ukuran sedang agar tidak basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. 

Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku di tangannya. Namun, sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. 

Akhirnya, ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah di seberang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. 

Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. 

Sebenarnya, ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut. 

Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih.

Nenek berkata, "Ada yang bisa saya bantu, Nak?"

Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia), "Saya minta maaf jika mengganggu. Akan tetapi, saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan Nyonya. 
Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada Nyonya. Didalamnya, dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhaannya."

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah, ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi.

Terdengar sayup-sayup, dari shaf perempuan, seorang perempuan tua berkata, "Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu, saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat, dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini."

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu, 

"Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku....... Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi, dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sudah kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir, 'Paling sebentar lagi, juga pergi.'

Namun......... suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati, 'Siapa gerangan yang sudi mengunjungiku? Tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku.'

Kulepaskan tali yang sudah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat
sebelumnya. 

Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian. 

Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali.

Ia berkata, 'Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa : Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya,' lalu dia memberikan buku ini kepadaku.

"De Weg Naar De Hemel" (Jalan Menuju Surga)

Anak kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan.

Hari itu juga secara tiba-tiba setelah menutup pintu, aku langsung membaca buku dari anak kecilku itu sampai selesai. 

Seketika, kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi."

"Sekarang, lihatlah aku. diriku sangat bahagia, karena aku telah mengenal Tuhan-ku yang sesungguhnya."

"Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterima kasih kepada kalian yang telah mengirimkan mutiara kecilku pada waktu yang tepat, hingga aku terbebas dari kekalnya api Neraka."

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung di masjid bergemuruh dengan  pekikan takbir, 
"Allahu Akbar."

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana mutiara kecil itu duduk, dan memeluknya erat, di hadapan para jama'ah.

Sungguh mengharukan. Mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.

Judul asli :
 قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة  

"DE WEG NAAR DE HEMEL"
Penerjemah: Shiddiq Al-Banjow

Share:

SELAMAT DARI PENCULIKAN KARENA DZIKIR PAGI DAN PETANG

Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert yang Ada di Arab Saudi

Kisah nyata ini terjadi di Riyadh disampaikan oleh seorang guru Qur`an Doktorah Raawiyah.

Sebelum mengakhiri pelajaran seperti biasa beliau selalu menyelipkan beberapa nasihat, tapi kali ini nasihatnya adalah kisah nyata yang terjadi di Riyadh.

"Yaa Akhwaat apa telah sampai berita kepada kalian tentang penculikan seorang gadis mutawasithah (SMP) sepekan lalu?"
Dan tidak ada satu pun dari kami mengetahui berita tersebut.

"Baiklah yaa Akhwaat, akan ku ceritakan kepada kalian bagaimana itu terjadi.

Siang ba'da Dzuhur si gadis pulang sekolah, karena jarak sekolah dan rumahnya dekat seperti biasa dia memilih jalan kaki. Ternyata kebiasaannya pulang sekolah dengan berjalan kaki ini sudah lama diketahui oleh seorang pemuda. Maka terbersitlah dalam pikirannya untuk menculik gadis tersebut...dan... berhasil!!!

Tak seorang pun yang melihatnya ketika menyekap si gadis dan memasukkannya ke "syanthoh sayyarah" (bagasi mobil) kemudian menguncinya.

Sang pemuda membawa gadis malang itu ke daerah Tsumamah.

Kalian sendiri tau Tsumamah di waktu siang seperti itu?! Ada siapa disana?! Bisa dipastikan hanya orang kesasar ataw tidak punya pekerjaan yang ada disana di waktu siang. Hanya Allah yang tau apa yang hendak diperbuat pemuda tersebut terhadap si gadis.Turunlah si pemuda dengan dengan kunci di tangannya,ingin cepat2 melihat "hasil tangkapannya". Dengan gembira dimasukkannya kunci dan diputarnya, tapiii... ada apa??? bagasi tidak bisa terbuka??? Dicobanya terus dan teruuus..... Tapi...percuma, adzan ashar sudah berkumandang.

Sang pemuda sudah mulai dihinggapi rasa takut dan "heran" yang sangat...
Bisa-bisa si gadis mati karena tidak menghirup udara, maka dicobanya lagi dan lagi.

Sang pemuda sudah putus harapan, bagasi tetap terkunci rapat. Sementara malam sudah membayangi...
Dengan perasaan takut dan pasrah sang pemuda memacuh mobilnya ke bengkel terdekat, berharap disana ada jalan untuk membuka bagasi mobilnya dan menyelamatkan nyawa si gadis.

Di bengkel hal yang sama terjadi. Semua cara sudah dilakukan oleh pekerjanya...
Terakhir sang pemuda memanggil polisi dan melaporkan hal tersebut. Sekarang yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana supaya gadis itu bisa diselamatkan.

Oleh polisi diputuskan supaya bagasi dilubangi dengan di las, tapi ajaib...., las pun tidak mampu melubangi bagasi...

Maka semua sepakat memanggil seorang Mutawwa'(Syaikh). Oleh Syaikh bagasi dibacakan ayat-ayat ruqyah kemudian dibuka dengan kunci...
Ajaib..., sekali putar bagasi langsung terbuka.

Dan didapati si gadis dalam keadaan selamat dan tidak terjadi apapun atas dirinya.

Subhanallah... Tercenganglah semua orang dibuatnya...
Maka Syaikh bertanya kepadanya : 'Wahai bint... ceritakanlah kepada kami apa yang telah engkau lakukan sampai Allah menjagamu dengan penjagaan seperti ini?' 

Jawabnya singkat : Sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkan Dzikir Pagi dan Petang'."

Subhanallah... Kami takjub dengan kisah ini. Nasehat Doktorah Raawiyah: "Lihatlah yaa Akhwaat... bagaimana dzikrullah menjadi sebab pertolongan Allah yang AJAIB bagi hamba-hambaNya... Maka jangan pernah tinggalkan Dzikir pagi dan petang sesibuk apapun kalian...".

Semoga kisah ini bisa menjadi cambuk bagi kita untuk senantiasa berusaha mengamalkan dzikir pagi dan petang dan tidak lagi menyia nyiakannya..


Dan hanya kepada Allah lah kita memohon Taufiq dan Hidayah.

Share:

Abdurrahman bin Auf

 Ala Sahabat Abdurrahman Bin Auf ...

Dari Kisah Ini mari kita Petik pelajaran nya 
Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Nabi ﷺ yang super kaya, dermawan, dan dijamin masuk surga. Tapi tahukah kamu... beliau pernah mencoba jadi miskin?

Iya, niatnya tulus. Ia ingin meringankan hisabnya di akhirat. Karena ia tahu, harta yang banyak itu bukan cuma nikmat, tapi juga tanggung jawab yang besar.

Suatu hari, ia melihat banyak kurma busuk menumpuk di pasar Madinah—tak laku, tak berguna, dan hanya memenuhi gudang. Ia pun membelinya semua, dengan harga normal. Rencananya? Ia jual ulang kurma itu dengan harga tinggi agar tidak laku, lalu uangnya habis, dan dia bisa hidup lebih sederhana.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Beberapa hari kemudian, datanglah utusan dari Yaman. Negeri mereka sedang kena wabah, dan tabib di sana bilang bahwa kurma busuk bisa dijadikan obat. Mereka langsung memborong semua dagangan Abdurrahman, bahkan dengan harga 10 kali lipat! 😲

Abdurrahman pun hanya bisa tertawa kecil dan berkata, “Allah tidak mengizinkan aku menjadi miskin.”

Kisah ini bukan cuma tentang dagang atau rezeki, tapi juga tentang niat. Abdurrahman gak ngotot jadi kaya, tapi juga gak pelit. Ia cuma ingin hidup ringan di dunia dan akhirat. Tapi Allah tahu lebih baik, dan tetap memberinya jalan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka—bahkan lewat kurma busuk.

Zaman sekarang? Banyak juga yang ngalamin hal mirip. Kadang kita ngerasa punya sesuatu yang gak ada harganya, eh ternyata justru itu yang nolong di saat genting.

fokusnya bukan soal tips sukses—tetapi ini tentang bagaimana niat baik, kejujuran, dan ridha Allah bisa membawa hasil yang lebih dari sekadar rencana manusia. 

Wallahua'lambisshowab

Share:

KISAH_KISAH ISLAMI


Akan Dikumpulkan Bersama yang Dicintai ...

Sejarah Imam Al-Qurthubi Mufassir Spanyol

Nama lengkapnya Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Ibn Farrah al-Ansari, al-Khazraji, al-Andalusi, al-Qurtubi (w.671H), dan populer dengan sebutan Imam Abu Abdillah. Beliau dilahirkan di Cordova, Spanyol dan ia juga adalah salah satu pengikut madzhab fikih yaitu Imam Maliki. Metode penafsirannya akan banyak mempengaruhi para mufassir setelahnya dengan mengikuti gaya penafsirannya, seperti halnya Ibn Katsir yang menjadikan kitabnya yang terkenal yaitu al jami’ li ahkamil Qur’an atau kitab al-Qurtubi sebagai rujukan.

Dalam kehidupannya sehari-hari beliau mempunyai sifat yang unik yang memang tidak semua orang memiliknya sehingga beliau banyak dikenal akan sikap ketawaduanya, kealimannya, kezuhudannya, berkarisma dan komited dalam melakukan amal akhirat untuk dirinya. Seperti yang pernah dikatakan oleh mufassir Adz-Dzaidah bahwa ia sering terlihat ketika memakai sehelai jubah yang bersih dengan kopiah di atas kepalanya serta seluruh hidupnya digunakan untuk beribadat kepada Allah. Sisa dari waktunya dihabiskan untuk menulis dan mengkaji ilmu agama ”Dia adalah seorang ulama besar yang tawadu dan lebih mementingkan ilmu pengetahuan terlebih kepada tafsir dan hadits yang menghasilkan karya yang jauh lebih baik pada masanya”

Namun sayangnya para ulama tidak ada yang tahu dengan pasti mengenai kapan ia dilahirkan, oleh siapa ia dibesarkan dan apakah ia seorang anak yatim atau tidak namun yang ditulis dalam sejarah bahwa ia dilahirkan dan dibesarkan oleh bapaknya yang bermata pencaharian bercocok tanam yang hidup pada zaman dinasti Muwahidun yang kala itu dipimpin oleh Muhammad bin Yusuf bin Hud (625-635 H) dikisahkan pada saat itu ayahnya sedang memanen dan pada waktu itu pula terjadi sebuah pemberontakan kaum separatis Nashrani Cordova yang menuntut untuk memerdekakan diri dari Islam.

Terlepas dari itu, al-Qurtubi kecil mempelajari berbagai disiplin ilmu ditempat ia dilahirkan kepada para gurunya yang sangat membantunya ialah Ibn Rawwa (seorang Imam hadits), Ibn al-Jumaizi, al-Hassan al-Bakari dsb. Diantara ilmu-ilmu yang ia pelajari ialah tentang keagamaan seperti bahasa arab, Hadits, syair, dan al-qur’an. Disamping itu pula ia banyak belajar dan mendalami ilmu yang menjadi pendukung ilmu Qur’an yakni dengan belajar nahwu, qira’at, fikih dan juga ia mempelajari ilmu balagh.

Setelah ia tumbuh dewasa dan merasa kurang dalam mendalami ilmunya itu, kemudian dia pergi ke mesir (yang pada waktu itu kekuasaan dipegang oleh Dinasti Ayyubiah) dan Ia menetap disana sampai ajal menjemputnya pada malam senin 9 syawal 671 H/1273 M dan makamnya sendiri berada di elmania, di timur sungai nil. Berkat pengabdiannya terhadap ilmu agama dan keinginannya dalam memajukan peradaban Islam, para penduduk disana sangat menghormati jasa beliau sehingga makamnya-pun sering diziarahi oleh banyak orang.
Guru-Guru Beliau

Sebagian dari guru Imam Qurtuby antara lain : Ibnu Rawaz (Imam Muhadis Abu Muhammad Abdul Wahab bin Rawaz, dan nama aslinya adalah Dzofir bin Ali Ibnu Futuhul Azda Al-Iskandarani Al-Maliki yang wafat pada tahun 648 H.), Ibnu Jumaizi (‘Alamah Bahaudin Abu Hasan Ali bin Hantullah bin Salamah Al-Misri As-Syafi’I wafat pada tahun 649 H, beliau termasuk dari ahli hadis, fiqh dan qira’at.), Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim Al-Maliki Al-Qurtuby yang wafat pada tahun 656 H., Al-Hasan Al-Bakri (Al-Hasan bin Muhammad bin Muhammad bin Amruuk At-Taimi An-Naysaburi Ad-Dimaski Abu Ali Shadrudin Al-Bakri wafat pada tahun 656 H.)

Beliau tinggal di kediaman Abu al-Hushaib.
Wafat Beliau
Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi meninggal dunia dan dimakamkan di Mesir iaitu dikediaman Abu al-Hushaib, pada malam isnin, tanggal 09 Syawal tahun 671 H. semoga Allah merahmati dan meredhai beliau.

Dengan kemampuannya dalam berbahasa arab yang fasih dan berpengetahuan yang luas tak pelak Karya-karya yang dilahirkannya pun sepadan dengan pengetahuannya. Namun karya yang paling termashhur ialah kitab al jami’ li ahkamil Qur’an, bukan berarti bahwa karya lainnya tidak terkenal seperti :
1. Attadzkirah fi Ahwal Al mauta wa Umur al Akhirah
2. fi Afdhal ad Adzkar
3. al Asna fi Syarh Asma’ illah Alhusna
4. Syarh at-Taqashshi
5. Risalah fi Alqam alhadits
6. Kitab al-Aqdhiyyah.

Corak Tafsir al-Qurtubi

Al-Qur’an ialah kitab suci umat islam yang diturunkan Allah SWT melalui malaikat Jibril yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw dan untuk ditaati oleh umat muslim sebagai panduan atau landasan tindakan dalam kehidupan dunia dan mengharapkan kebahagian akhirat. Al-Qur’an yang ada sekarang adalah suatu bentukan buku duniawi yang “termuat diantara kulit muka dan kulit belakang”, Qur’an duniawi ini sebenarnya ungkapan nyata dari yang asli yang berada pada Allah, tersimpan dalam prasasti terjaga (al-LAuh al-Mahfuzh)

Karya yang paling monumental dalam Al-Qur’an ialah mempunyai kandungan yang sangat substansial karena al-Qur’an ialah sumber inspirasi bagi setiap orang sehingga lahirlah berbagai disiplin ilmu yang dikemudian hari baru muncul pada saat setelah wafatnya Sang suksesor Nabi Muhammad saw. yang terpenting dan pertama kali berkembang ialah karya-karya yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk menafsirkan al-Qur’an guna mendapatkan intisari dari ajaran kitab suci itu sendiri.

Dalam sejarahnya, tafsir pada awal Islam ditransmisikan melalui riwayat secara lisan. Rosulullah menjelaskan sebagian al-Qur’an kepada para Sahabat, lalu mereka meriwayatkannya kepada sahabat lainnya, atau mereka meriwayatkannya kepada para tabi’in dan seterusnya. Periwayatan demikian dapat dikatakan sebagai langkah pertama atau periode Transmisi lisan, atau dikenal dengan nama tafsiral-Nabiy (tafsir Nabi) ini dapat dibuktikan pada riwayat-riwayat hadits nabi yang sampai kepada mereka.

Pada zaman setelah nabi wafat para sahabat menafsirkan al-Qur’an dan mengajarkan pemahaman mereka atas al-Qur’an kepada kaum muslimin lainnya. para Sahabat dalam menafsirkan al-Qur’an dan yang menjadi sumber utama penafsiran bagi mereka adalah al-Qur’an itu sendiri, yakni pernyataan al-Qur’an yang ditafisrkan kembali dengan ayat lain yang mempunyai relevansi atas ayat yang sedang dikaji, metode ini sering dikenal dengan metode tafsir maudhu’i.

Setelah periode pertama (zaman nabi) tersebut maka masuk pada periode kedua yaitu periode tafsir tertulis. Ini agaknya dapat dikemukakan secara pasti baru pada tahun terakhir abad ke-2 H/ke-8 M. periode ini diwakili oleh Muqathil bin Sulaiman dalam karyannya Tafsir al-Qur’an, Khams Mi’ahAyah Min al-Qur’an (tafsir 500 ayat al-Qur’an) dan Kitab al-wujuh wa an-Naza’ir (kitab tentang arti dan persamaan-persamaan). Baru pada abad ke-4 H/ke-10 M, literature tafsir benar-benar lahir secara lengkap.

Setelah bergantinya zaman dan generasi, ilmu tafsir mengalami kemajuan pesat yang diiringi dengan meluasnya wilayah imperium Islam keberbagai negeri seperti Asia kecil, Maghribi (sekarang Maroko), Andalusia (sekarang Spanyol), sebagian kecil Prancis dst. Maka tafsir pun semakin berkembang luas-bukan hanya dalam ruang lingkup jazirah Arab-dan tentunya akan melahirkan para mufassir-mufassir baru dengan ditandai lahirnya kitab-kitab tafsir yang termashur dikalangan umat islam.

Dalam kawasan Spanyol banyak sekali tokoh-tokoh Islam, namun ada satu tokoh di bidang tafsir yang pernah dilahirkan oleh Islam yang sangat masyhur dengan kitab tafsirnya yang banyak memuat ayat-ayat hukum yang berjudul al-jami’ li ahkamil Qur’an (Ensiklopedi Hukum-hukum al-Qur’an) atau lebih dikenal dengan tafsir al Qurtubi.

Imam al-Qurtubi telah menjelaskan latar belakang penamaan kitab itu sebagai berikut: “Adapun, al-Quran ini merupakan satu kitab yang penting bagi melaksanakan hukum syara’, selain sunnah dan juga kewajiban yang lain. Ia diturunkan oleh pembawa amanah dari langit (Jibril) kepada pemegang amanah di muka bumi (Rasulullah SAW). Oleh itu, aku merasakan aku ‘patut’ untuk berkhidmat dengannya sepanjang hidupku, meluangkan masa dari segala kesibukanku terhadap dunia ini. Aku berusaha untuk menulis ulasan dan uraian secara ringkas dalam al-Quran itu berdasarkan uraian dan tafsiran ulama, dari aspek bahasa, I’rab, hukum qiraat selain turut menempelak golongan yang sesat dan menyeleweng. Begitu juga, aku membentangkan beberapa hadis yang menjadi penguat dari aspek hukum dan sebab-sebab penurunan sebuah ayat tersebut dengan gabungan di antara maknanya yang tersirat. Selain itu, turut diterangkan segala isu permasalahan yang timbul berdasarkan pendapat ulama salaf dan generasi yang mengikuti jejak langkah mereka dari kalangan ulama khalaf (terkemudian)…dan aku meletakkan dua syarat di dalam kitabku ini, yaitu
[1] menyandarkan setiap perkataan kepada orang yang menyebutnya dan
[2] menyatakan hadis dari sumbernya yang asal. Kerana para ulama menyatakan bahwa ‎keberkatan ilmu itu didapati daripada setiap komentar yang disandarkan kepada orang yang mengatakannya dan juga setiap hadis itu di sebutkan sumber asalnya. Keberkatan ilmu itu didapati daripada setiap komentar yang di’sandar’kan kepada orang yang mengeluarkan kenyataan itu. Ini kerana terlalu banyak hadisyang dikutip dari kitab fiqh dan tafsir yang diragukan kesahihannya (mubham). Tidak akan diketahui siapakah yang mengatakannya kecuali apabila dirujuk semula ke dalam kitab-kitab hadis. Jika keadaan ini tidak dinyatakan, pastilah orang yang tidak punya keahlian akan terus dalam ‘ketidaktahuan’ disebabkan tidak mengetahuai antara hadis yang sahih dan hadis yang ‘lemah’. Apa yang mereka ketahui hanyalah ilmu kulit saja (tanpa kebenaran yang sahih).

Keadaan seperti itu, sebenarnya tidak diterima sebagai hujah dan pendalilan sehingga mereka mengeluarkannya dengan ’sandaran’ kepada seseorang tokoh ulama yang terkenal, dipercayai dan disegani di kalangan ulama Islam. Maka, inilah yang kami (penulis) syaratkan di dalam kupasan kitab ini, semoga Allah menunjukkan jalannya yang benar!

Aku menghindari dari memasukkan terlalu banyak kisah-kisah para mufassir dan juga sejarawan melainkan yang benar-benar penting bagi sesuatu hal yang sememangnya perlukan penjelasan berkaitan sesebuah hukum, atau memberikan panduan kepada pengkaji untuk mendapatkan keputusannya. Aku turut meletakkan bagi setiap ayat sandaran padanya cuma satu hukum fiqh ataupun dua hukum sahaja, malah sesetengahnya ditambah dengan keterangan yang bersangkutan dengan ayat tersebut seperti sebab-sebab penurunan ayat, tafsiran, kalimah pelik (gharib) dan juga hukum. Jika tidak disebutkan hukum fiqh, aku akan menyebutkan padanya tafsiran dan takwilan… dan seterusnya hingga akhir pendahuluannya. Lalu aku namakan kitab ini sebagai “al-Jami’ li Ahkam al-Quran wa al-Mubayyin lima Tadhammanahu min al-Sunnah wa Ahkam al-Furqan”.

Di dalam karyanya itu al Qurtubi mempunyai metode penafsiran yang sama seperti halnya at-Thabari, karena al Qurtubi sangat terpengaruh dengan penafsiran at-Thabari. Akan tetapi ia sendiri mempunyai ciri khas dalam menafsirkan al-Qur’an.

Di dalam kitab ini ia menggunakan metode tafsirbil ma’tsur yakni metode tafsir untuk menafsirkan ayat al Qur’an dengan riwayat-riwayat lainnya dari para ulama sebelumnya. Kemudian dimana letak ke unikan dalam kitab tersebut?.

Dalam kitab tersebut kita akan melihat bahwa tafsir-tafsir yang beliau gunakan dengan cara memuat hukum-hukum yang terdapat dalam al Qur’an dengan pembahasan yang lebih luas yang menyatukan hadits dengan masalah-masalah ibadah, hukum, dan linguistik. Tidak hanya samapai disana, hadits-hadits yang digunakannya yang ada dalam tafsirnya itu sudah ditakhrij dan disandarkan langsung kepada orang yang meriwayatkannya.

Lebih dari itu, kitab tafsir yang memuat banyak hukum itu tidak memuat kisah-kisah Israiliyat seperti yang ada dalam tafsir at-Thabari. Dalam hal ini al Qurtubi tidak terpengaruh oleh at-Thabari walaupun ia sedikit banyak telah terpengaruh oleh metode tafsir at-Thabari.

Disini saya akan memberikan sebagian dari contoh tafsir al Jami’ li Ahkamil Qur’an. Dalam kitab tafsir al Qurtubi pada bab fadhail al Qur’an (jil.I-2):

Di dalam sebuah surah Qur’an yang paling awal, Rasul ditegur dengan kalimat: ’kami akan menurunkan kepadamu sabda yang berat (Qur’an)’. Karena itu Qur’an dianggap sebagai beban yang agung, dan mereka yang membacanya, mempelajarinya, dan mengajarkannya disebut para pendukung (halamah) Qur’an. Tugas ini sama terhormatnya dengan balasannya bagi mereka. Qurtubi memberikan indikasi mereka sebagai :”merekalah para pembawa misteri-misteri tersembunyi dari Allah dan para pemelihara pengetahuan-Nya. Mereka para penerus (Khulafa) bagi rasul-rasul-Nya dan orang-orang kepercayaan-Nya. Mereka itu adalah pengikut-Nya dan yang terpilih di antara makhluk-makhluk-Nya.

Qurtubi kemudian mengutip sebuah hadits yang memuat pernyataan Rasul tentang umat Qur’an (yaitu mereka yang menyibukkan dirinya dengan membaca dan mengkajinya) sebagai umat Allah dan pilihan-Nya. pekerjaan mereka dianggap lebih baik dari ibadah mana pun, dimata Allah.

Maka dalam hadits Qudsi, yang dikisahkan dari Rasul berdasarkan penuturan Abu Sa’id al Khudri, Allah menyataka, “Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan Qur’an, dan dengan mengingatKu dari berdo’a kepada-Ku untuk kebutuhan-kebutuhannya, maka kepadanya akan Aku berikan yang terbaik dari semua yang Aku kabulkan kepada mereka yang berdo’a”

Kehidupan Rasul, ucapan beliau dan tindakan beliau (Sunnah) telah menjadi contoh teladan bagi laku moral dan ketaatan untuk kaum muslim dari semua masa, karena watak moral dan spiritual Rasul telah dibentuk oleh Al-Qur’an. Watak kenabian ini menjadi tujuan ideal bagi mereka yang mengabdi, tetapi juga merupakan hal yang diterima oleh umat Qur’an (yaitu mereka yang menyibukkan dirinya dengan membaca dan mengkajinya). Diriwayatkan, berdasarkan penuturan Abu Umamah, bahwa Rasul mengatakan :”Dia yang diberi sepertiga dari Qur’an diberi juga sepertiga kenabian. Dia yang diberi duapertiga dair Qur’an diberi dua pertiga kenabian. Dia yang membaca (lewat hafalan) seluruh Qur’an diberi kenabian lengkap-kecuali bahwa tidak ada yang diturunkan kepadannya.” Hadits kemudian menjelaskan status orang seperti itu pada hari kiamat. “Akan dikatakan kepadanya…’Bacalah dan bangkitlah’. Maka dia akan membaca sebuah ayat, dan bangkit satu tingkat, sampai dia membaca yang dia ketahuinya mengenai Qur’an. Kemudian akan dikatakan kepadanya, ‘Datanglah ke sini…tahukah apa yang ditanganmu? Pada tangannya adalah kehidupan yang abadi, dan pada tangan kirinya ada kenikmatan (na’im)surgawi’

Al Qurtubi adalah salah satu mufassir muslim yang dilahirkan Islam dengan mempunyai pengetahuan luas yang selalu memperjuangkan Islam dibelahan barat dunia. Dengan segenap kemampuannya ia mengumpulkan, dan menghafal hadits untuk menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum baik itu hukum fikih, ibadah dsb.

Dalam setiap kitab tafisr tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Tetapi itu bukan menjadi permasalahan yang signifikan dibanding dengan mempelajari dan mengetahui secara mendalam metode yang ditafsirkannya, kalaupun memang ada sebuah kritikan yang memang perlu diungkapkan maka baginya itu lebih baik.

Berkata Ibn Farhun: “Hasil karyanya ini adalah yang paling baik pernah aku baca dan dia (al-Qurtubi) menulis banyak kitab lain yang sangat bernilai dan bermutu tinggi.”

Tafsir al-Qurthubi ini oleh Penerbit Dar Ihya wa at-Turats, Beirut dicetak dalam 20 jilid.

Share:

KESABARAN SEORANG ULAMA

 Pasir Putih Situbondo - Harga Tiket, Rute Lokasi & Spot Terbaru 2023

Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya.

Maka datanglah orang ini menemui Al Wajiih, kemudian bertanya kepadanya tentang satu masalah dalam ilmu nahwu. Syaikh Al Wajiih menjawab dengan sebaik-baik jawaban dan menunjukan kepadanya jalan yang benar.

Lantas orang itu berkata kepadanya, “Engkau salah’.

Syaikh kembali mengulangi jawabannya dengan bahasa yang lebih halus dan mudah dicerna dari jawaban pertama, serta ia jelaskan hakekatnya.

Orang itu kembali berkata, “Engkau salah hai syaikh, aneh orang-orang yang menganggapmu menguasai ilmu nahwu dan engkau adalah rujukan dalam berbagai ilmu, padahal hanya sebatas ini saja ilmumu!”.

Syaikh berkata dengan lembut kepada orang itu, “Ananda, mungkin engkau belum paham jawabannya, jika engkau mau aku ulangi lagi jawabannya dengan yang lebih jelas lagi dari pada sebelumnya”.

Orang itu menjawab, “Engkau bohong! Aku paham apa yang engkau katakan akan tetapi karena kebodohanmu engkau mengira aku tidak paham”.

Maka syaikh Al Wajiih berkata  seraya tertawa, “Aku mengerti maksudmu, dan aku sudah tahu tujuanmu. Menurutku engkau telah kalah. Engkau bukanlah orang yang bisa membuatku marah selama-lamanya.

Ananda, konon ada seekor burung duduk di atas punggung gajah, ketika dia hendak terbang ia berkata kepada gajah, “Berpeganglah kepadaku, aku akan terbang!”.  Gajah berkata kepadanya, “Demi Allah hai burung, aku tidak merasakanmu ketika bertengger di punggungku, bagamaimana aku berpegang kepadamu saat engkau terbang!”.

Demi Allah hai anakku! Engkau tidak pandai bertanya tidak pula paham jawaban, bagaimana aku akan marah kepadamu?!”.

(Mu’jamul Udaba’ : 5/44).

Menjadi guru, juga seorang da’i memang harus banyak belajar bersabar, lapang dada dan berakhlak mulia .. semoga Allah Ta’ala memudahkan hal itu untuk kita, aamiin.

Penulis: Ustadz Abu Zubair Al-Hawary, Lc.

sumber: https://kisahmuslim.com/294-kesabaran-seorang-ulama.html

Via HijrahApp

Share:

Recent Posts

Pages