Di antara kisah para istri Rasulullah ﷺ, ada sebuah kisah yang menunjukkan bagaimana sebuah pernikahan dapat menjadi sebab lahirnya pembebasan banyak manusia.
Beliau adalah Juwayriyah binti Al-Harits رضي الله عنها, salah satu Ummahatul Mukminin.
Kisah beliau bermula setelah Perang Bani al-Musthaliq, ketika banyak dari kaum Bani al-Musthaliq menjadi tawanan.
Di tengah keadaan tersebut, Juwayriyah رضي الله عنها datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan agar dirinya dapat memperoleh kebebasan.
Namun apa yang terjadi setelah itu sungguh luar biasa.
Juwayriyah رضي الله عنها Meminta Bantuan Rasulullah ﷺ
Juwayriyah رضي الله عنها adalah putri Al-Harits bin Abi Dirar, pemimpin Bani al-Musthaliq.
Setelah peperangan, beliau menjadi salah satu tawanan.
Beliau kemudian datang menemui Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan dalam membayar mukatabah, yaitu perjanjian pembebasan seorang budak dengan pembayaran tertentu.
Juwayriyah رضي الله عنها meminta bantuan Rasulullah ﷺ karena tidak mampu menyelesaikan pembayaran tersebut.
Rasulullah ﷺ kemudian menawarkan sesuatu yang jauh lebih mulia:
beliau ﷺ menawarkan untuk membayar mukatabah tersebut dan menikahi Juwayriyah رضي الله عنها.
Juwayriyah رضي الله عنها menerima.
Maka Rasulullah ﷺ membebaskannya dan kemudian menikahinya.
Pernikahan yang Mengubah Nasib Banyak Orang
Ketika para sahabat mengetahui bahwa Juwayriyah رضي الله عنها telah menjadi istri Rasulullah ﷺ, mereka menyadari bahwa orang-orang Bani al-Musthaliq yang berada dalam kepemilikan mereka kini memiliki hubungan dengan keluarga Rasulullah ﷺ.
Mereka pun memilih untuk membebaskan para tawanan yang mereka miliki.
Dalam riwayat sahih dari Aisyah رضي الله عنها, disebutkan bahwa sekitar seratus keluarga dari Bani al-Musthaliq dibebaskan karena pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Juwayriyah رضي الله عنها.
Aisyah رضي الله عنها berkata dengan makna:
> “Aku tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih besar keberkahannya bagi kaumnya daripada Juwayriyah.”
Masya Allah.
Juwayriyah رضي الله عنها yang awalnya datang dalam keadaan membutuhkan kebebasan, akhirnya menjadi sebab banyak orang dari kaumnya memperoleh kebebasan.
Dari Seorang Tawanan Menjadi Sebab Kebebasan
Perhatikan perjalanan kisahnya.
Awalnya:
Juwayriyah رضي الله عنها adalah seorang tawanan.
Kemudian:
Rasulullah ﷺ membebaskannya.
Lalu:
pernikahan tersebut menjadi sebab para sahabat membebaskan banyak tawanan lainnya.
Sebuah keadaan yang tampak sangat berat ternyata Allah ﷻ jadikan sebagai jalan terbukanya kebaikan bagi banyak orang.
Inilah salah satu pelajaran besar dari kisah Juwayriyah رضي الله عنها.
Keberkahan yang Melampaui Diri Sendiri
Juwayriyah رضي الله عنها tidak hanya mendapatkan kebebasan untuk dirinya.
Kebaikan itu meluas kepada kaumnya.
Hal ini mengajarkan sebuah prinsip yang indah:
Kadang-kadang Allah ﷻ memberikan jalan keluar untuk seseorang, lalu menjadikan orang tersebut sebagai jalan keluar bagi orang lain.
Kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah kebaikan kecil akan berkembang.
Satu orang dibantu.
Kemudian ia membantu orang lain.
Orang yang kedua membantu orang ketiga.
Akhirnya kebaikan itu menyebar jauh melampaui orang pertama yang menerimanya.
“Perempuan yang Paling Berkah bagi Kaumnya”
Pujian Aisyah رضي الله عنها kepada Juwayriyah رضي الله عنها sangat kuat.
Bukan karena Juwayriyah رضي الله عنها memiliki kekuasaan.
Bukan karena beliau memiliki harta yang banyak.
Tetapi karena keberadaannya menjadi sebab terbebasnya banyak orang.
Betapa indah jika kehidupan kita juga memiliki keberkahan seperti itu.
Bukan hanya kita yang mendapatkan manfaat dari hidup kita.
Tetapi orang lain juga merasakan kebaikan karena kita.
Juwayriyah رضي الله عنها dan Ibadahnya
Juwayriyah رضي الله عنها juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap zikir.
Dalam hadis sahih Muslim, Rasulullah ﷺ pernah meninggalkan Juwayriyah رضي الله عنها dalam keadaan duduk berzikir setelah salat Subuh.
Ketika beliau ﷺ kembali setelah waktu yang cukup lama, Juwayriyah رضي الله عنها masih berada di tempatnya.
Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan sebuah zikir yang sangat agung:
“Subhanallahi wa bihamdihi, 'adada khalqihi, wa rida nafsihi, wa zinata 'arsyihi, wa midada kalimatihi.”
Artinya secara ringkas:
“Mahasuci Allah ﷻ dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai keridaan-Nya, seberat timbangan 'Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya.”
Kisah ini menunjukkan bahwa kehidupan Juwayriyah رضي الله عنها bukan hanya tentang peristiwa pembebasan.
Beliau juga dikenal sebagai seorang perempuan yang banyak berzikir dan beribadah.
Ada Pelajaran yang Sangat Dalam
Kisah Juwayriyah رضي الله عنها bukan hanya cerita tentang sejarah.
Ada beberapa pelajaran yang sangat relevan untuk kehidupan kita.
1. Jangan Merasa Hidup Kita Tidak Berarti
Juwayriyah رضي الله عنها mungkin pada awalnya tidak mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi sebab banyak orang memperoleh kebebasan.
Begitu juga kita.
Mungkin kita merasa amal kita kecil.
Membantu satu orang.
Memberikan makanan.
Membayar kebutuhan seseorang.
Memberikan pekerjaan.
Mengajarkan ilmu.
Menolong seseorang yang sedang terpuruk.
Kita tidak tahu seberapa panjang rantai kebaikan yang Allah ﷻ ciptakan dari satu amal tersebut.
2. Kebaikan yang Kita Terima Bisa Menjadi Kebaikan bagi Orang Lain
Juwayriyah رضي الله عنها mendapatkan kebebasan.
Namun keberkahan itu tidak berhenti pada dirinya.
Kaumnya juga mendapatkan manfaat.
Maka ketika Allah ﷻ memberi kita pertolongan, jangan berhenti pada rasa syukur untuk diri sendiri.
Tanyakan:
“Siapa yang bisa saya bantu setelah Allah ﷻ membantu saya?”
3. Jangan Meremehkan Satu Orang
Satu orang dapat menjadi sebab perubahan bagi banyak orang.
Juwayriyah رضي الله عنها hanya satu orang.
Tetapi kisahnya menjadi sebab banyak tawanan memperoleh kebebasan.
Karena itu, jangan pernah meremehkan satu kebaikan.
Dan jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena kedudukannya terlihat kecil di mata manusia.
4. Kebebasan Adalah Nikmat Besar
Kisah Juwayriyah رضي الله عنها juga mengingatkan kita tentang pentingnya membebaskan manusia dari kesulitan.
Pada zaman sekarang, bentuk “membebaskan” tidak selalu berarti membebaskan seseorang dari perbudakan.
Kita dapat membantu seseorang terbebas dari:
utang,
kelaparan,
kesulitan ekonomi,
kebodohan,
kesepian,
ketidakberdayaan,
atau masalah yang sedang menghimpit kehidupannya.
Jika Allah ﷻ memberi kita kemampuan untuk meringankan kesulitan seseorang, jangan sia-siakan kesempatan itu.
Jangan Hanya Menjadi Orang yang Diselamatkan
Ada sebuah renungan indah dari kisah Juwayriyah رضي الله عنها:
Jangan hanya berharap Allah ﷻ mengirimkan seseorang untuk menolong kita.
Berusahalah agar suatu hari nanti kita juga menjadi orang yang Allah ﷻ gunakan untuk menolong orang lain.
Mungkin kita pernah berada dalam kesulitan.
Kemudian Allah ﷻ mengirim seseorang untuk membantu kita.
Jangan lupakan pengalaman itu.
Ketika suatu hari Allah ﷻ memberi kita kemampuan, jadilah orang yang membantu orang lain sebagaimana dahulu kita pernah dibantu.
---
Juwayriyah رضي الله عنها datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan membutuhkan kebebasan.
Namun setelah Allah ﷻ memberikan jalan keluar kepadanya, keberkahan itu tidak berhenti pada dirinya.
Pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ menjadi sebab para sahabat membebaskan banyak tawanan dari kaumnya.
Aisyah رضي الله عنها sampai mengatakan bahwa beliau tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih besar keberkahannya bagi kaumnya daripada Juwayriyah رضي الله عنها.
Maka kisah ini mengajarkan:
Jadilah manusia yang kehadirannya membawa keberkahan bagi orang lain.
Jangan hanya bertanya:
“Apa yang akan Allah ﷻ berikan kepadaku?”
Tetapi tanyakan juga:
“Kebaikan apa yang Allah ﷻ ingin sampaikan kepada orang lain melalui diriku?”
Karena bisa jadi, setelah Allah ﷻ menyelamatkan kita dari satu kesulitan, Dia ingin menjadikan kita jalan keselamatan bagi orang lain.
* Doa
Ya Allah ﷻ, jadikanlah hidup kami penuh keberkahan.
Jika Engkau memberikan kami pertolongan, jadikan kami sebab pertolongan bagi orang lain.
Jika Engkau memberikan kami rezeki, jadikan kami ringan untuk berbagi.
Jika Engkau membebaskan kami dari kesulitan, jadikan kami orang yang membantu membebaskan saudara kami dari kesulitannya.
Ya Allah ﷻ, jangan jadikan hidup kami hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Jadikan kami jalan kebaikan, jalan pertolongan, dan jalan keberkahan bagi banyak orang.
Aamiin ya Rabbal 'alamin 🤲






Tidak ada komentar:
Posting Komentar